Sejarah Desa Begadung



SEJARAH KELURAHAN BEGADUNG

Bahwa berdasarkan cerita turun temurun, di tempat yang saat ini disebut Lingkungan (Dusun) Sanggrahan yang masuk wilayah Rukun Warga (RW) 2 Kelurahan Begadung, terdapat MAKAM DOWO, dengan panjang sekitar 3,4 meter, di sekitar makam terdapat Pohon Kepuh, Pohon Juwet dan Pohon Doro yang tinggi dan besar. MAKAM DOWO merupakan salah satu peninggalan Mbah Singo Sentono dan Mbah Sariyem, yang menurut cerita turun temurun dari warga masyarakat beliau merupakan orang yang babat alas di lingkungan tersebut. Saat ini tidak ada yang mengetahui secara pasti apa yang terdapat di dalamnya, apakah memang benar-benar makam manusia pada umumnya atau merupakan makam yang berisi benda-benda pusaka di dalamnya. Mbah Singo Sentono dan Mbah Sariyem bermukim lama di wilayah ini, dan seiring waktu lingkungan tersebut dinamakan Pesanggrahan (tempat singgah). Lingkungan (Dusun) Sanggrahan merupakan Dusun yang tertua yang ada di Kelurahan Begadung. Untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai orang yang babat alas, maka khususnya warga masyarakat Lingkungan (Dusun) Sanggrahan setiap tahun sekali mengadakan kegiatan bersih desa/sadranan yang berlokasi di MAKAM DOWO (ada yang menyebut dengan nama punden). Acara yang dilakukan antara lain shodaqoh/tasyakuran yaitu berbagi makanan dengan warga 1 (satu) dusun dan mengadakan pertunjukan Wayang Kayu (Wayang Gedog). Kegiatan ini merupakan penghormatan atas apa yang telah dilakukan oleh Mbah Singo Sentono beserta istrinya. Selain itu tujuan utamanya adalah sebagai wujud rasa syukur pada Allah SWT serta sebagai tempat berkumpul dan bersilaturahmi antar warga. Sampai dengan saat ini lingkungan tersebut disebut SANGGRAHAN dan sampai dengan saat ini kegiatan bersih desa/sadranan masih tetap dilakukan.