Sejarah Desa Bogo



SEJARAH KELURAHAN

Kelurahan Bogo merupakan salah kelurahan dengan homogenitas dan kepadatan penduduk yang tinggi, seperti penuturan para sesepuh kelurahan setempat, pada dahulu kala Kelurahan Bogo adalah sebuah desa yang tidak begitu padat penduduknya. Pada saat masih menjadi desa,  Bogo mempunyai tiga dukuan, yaitu Bogo Kidol, Bogo Lor dan Kedung Banteng.

Bogo mempunyai historis sendiri terkait dengan asal usul nama Bogo, berawal dari penuturan para sesepuh desa setempat menuturkan bahwa, desa ini dinamai Bogo adalah karena pada zaman dahulu di wilayah ini masih sepi dan sebagian besar lokasinya adalah persawahan dan perkebunan, nah lokasi persawahan dan perkebunan tersebut terdapat banyak ”pohon bogo”, sehingga lokasi di kawasan ini dinamai ”Bogo”. Seiring dengan berjalannya waktu wilayah yang dinamai Bogo ini menjadi Desa yang masyarakat setempat menamainya dengan ”Desa Bogo”.

Salah satu dukuan yang ada di Desa Bogo adalah Dukuan ”Kedung Banteng”, satu dukuan ini juga mempunyai historis tersendiri bagi masyarakat setempat. Konon wilayah yang saat ini menjadi wilayah RW 1 tersebut pada saat itu ada sungai yang sering dipakai ”kungkom” diceburi oleh gerombolan banteng. Kedung berarti daerah aliran sungai yang mempunyai kedalaman lebih dibanding dataran sungai yang lain, sedangkan Banteng adalah salah satu spesies hewan. Karena begitu seringnya Banteng kungkum di sungai dikawasan tersebut akhirnya wilayah ini dinamai kedungbanteng.

Wilayah Desa Bogo mempunyai karakteristik pembagian wilayah yang unik, ditengah-tengah desa Bogo dipisahkan oleh Desa Kauman yang saat ini menjadi Kelurahan Kauman. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kesepakatan para sesepuh, masyarakat dan pendiri desa setempat pada zaman dahulu.

Adapun Kepala Desa pertama yang ada di desa Bogo adalah Bapak Sairan. Bapak Sairan ini menjabat sebagai Kepala Desa di Desa Bogo sejak zaman penjajahan Jepang. Beberapa periode Bapak Saeran menjadi Kepala Desa (Kades) di Desa Bogo yang kemudian dilanjutkan kepemimpinannya oleh Bapak Tjokro Hadi Wijono. Jadi Bapak Tjokro Hadi Wijono merupakan Kepala Desa kedua yang semasa hidupnya mengabdikan dirinya untuk memimpin Desa Bogo selama kurang lebih 41 tahun. Bapak Tjokro Hadi Wijono Mulai menjabat sebagai Kepala Desa pada Tanggal 10 Juni 1940 sampai dengan 31 Desember 1981. Seiring dengan perkembangan zaman Desa Bogo secara administratif menjadi Kelurahan Bogo, yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk.