Sejarah Desa Kramat



Profil Kelurahan Kramat

Sejarah Berawal dari rencana pembangunan Masjid Jami’ kota Nganjuk di temukan dua makam yang berdekatan dari lokasi yang direncanakan. dikarenakan lokasi itu akan dibangun Masjid. Dua makam tersebut harus segara dipindahkan, namun setiap kali dipindahkan, kedua makam tersebut kembali lagi ketempat semula. Menurut narasumber, salah satu sumber makam tersebut bersedia dipindahkan di satu tempat.Tempat itu di percaya adalah tempat yang keramat karena menjadi pilihan salah satu makam tersebut. Sesuai dengan kisahnya kini lingkungan tersebut bernama Desa/Kelurahan Kramat. Pada saat itu masa pimpinan lurah Kakung Desa Kramat Mbah Marto Taruno (1890-1922). Sedangkan makam yang lainnya tetap didekatkan pada posisi yang berdekatan dengan Masjid Jami’ Kota Nganjuk. Penempatan itu tetap pada lokasi atau lingkungan yang sama. Lingkungan tersebut sekarang bernama Desa/Kel.Mangundikaran. Dipercaya Makam yang tetap pada lingkungan tersebut adalah Makam Mbah Mangundikaran, Maka dari nama desa/Kel.tersebut mereka ambil dari itu.

Pada tahun 1971 pada masa Pimpinan Lurah Desa Mbah Suwadi Djojopawiro (1961-1983) beberapa penduduk desa melakukan penggalian sumur kecil yang disebut “Belik” untuk mengairi sawah mereka. Kebetulan pada saat itu Desa/Kel.Kramat sebagian wilyahnya masih berupa persawahan luas dengan penduduk yang belum padat, pada saat penggalian tanah kurang lebih 3 meter, dari penggalian tersebut ditemukan “Pendosa” atau keranda mayat yang didalamnya terdapat tulung manusia. Kemudian temuan tersebut dimakamkan berderatan dengan makam pindahan dari Desa/Kel.Mangundikaran yang telah lama sebelumnya sudah dimakamkan di tempat itu.   Kini kedua makam tersebut telah menjadi sesepuh yang dihormati dan dirawat keberadaannya yang sekarang kami sebut “Punden”.