BALAI BUDAYA NGANJUK DALAM LINTASAN SEJARAH


 2022-12-08 |  Desa Mangundikaran

Gedung Balai Budaya Nganjuk adalah salah satu legenda bangunan bersejarah di Kota Nganjuk. Awalnya gedung ini adalah gudang padi milik seorang pengusaha bernama Soen Boen Lie yang berlokasi di samping Kantor ANIEM (cikal bakal PLN Nganjuk). Dalam rangka memberikan sarana hiburan bagi para buruh dan masyarakat sekitar, maka di halaman depan gudang padi tersebut kerapkali diadakan pagelaran wayang kulit, ketoprak, dan tayub. 

Lambat laun gudang padi tersebut justru tidak lagi digunakan, namun berubah menjadi gedung kesenian tradisional untuk rakyat bumiputera (inlander). Pada tanggal 29 Juli 1938, di gedung tersebut pernah digelar pementasan Wayang Wong Ngesti Pandawa. Pementasan ini tergolong luar biasa, karena pada masa itu, kesenian wayang orang panggung masih belum begitu dikenal. Umumnya pagelaran wayang masih didominasi oleh wayang kulit. Momentum pementasan Wayang Wong Ngesti Pandawa di Nganjuk saat itu menjadi peristiwa yang legendaris dan dimuat dalam surat kabar berbahasa Belanda. 

Waktu terus berlalu, gemerlap kejayaannya Gedung Balai Budaya Nganjuk perlahan kian surut. Gedung yang dulunya penuh semarak pertunjukan semakin lama semakin tidak jelas nasibnya. Pada sekitar tahun 80-an gedung ini pernah difungsikan sebagai Gedung Bioskop, tapi bangkrut dan terbengkalai selama bertahun-tahun. Kemudian pada tahun 2016, Pemda Nganjuk memugar kembali gedung Balai Budaya ini dan diberi nama Gedung Mpu Sindok. Alih-alih menjadi pusat acara kebudayaan, gedung Mpu Sindok justru tidak jelas peruntukannya. Seringkali gedung ini lebih banyak disewakan kepada masyarakat, untuk acara seminar, wisuda, dan resepsi pernikahan. Kemudian ketika pandemi COVID-19 melanda, pada tahun 2021 gedung ini sempat difungsikan sebagai tempat karantina pasien COVID-19. 

Akhirnya pada Bulan Agustus 2022 gedung ini difungsikan sebagai Kantor Dinas Porabudpar Kabupaten Nganjuk. Dengan fungsinya seperti sekarang yaitu sebagai tempat perkantoran, maka muncul tanda tanya besar, akankah nyawa Gedung Balai Budaya yang dulu menjadi pusat kegiatan kebudayaan di Nganjuk semakin hidup atau justru semakin redup dan mati?