Sejarah Desa Mangundikaran



Asal mulanya ada putera Rojo Mataram bernama : Pangeran Papak, beliau pergi tanpa pamit. Raja memerintahkan 3 orang abdinya bernama :

  1. MANGUNDIKUSUMO
  2. RORO SURATMI (adik MANGUNDIKUSUMO)
  3. Raden BUJANG ANUNG

Ketiganya berangkat untuk mencari Pangeran Papak, sampai di daerah Ponorogo abdi dalem dapat bertemu Pangeran Papak, beliau berguruh kepada Ki Ageng Kutu. Karena perintahnya hanya mencari, tidak disuruh untuk diajak pulang, akhirnya ketiga abdi kembali sendiri tidak dengan Pangeran Papak. Sesampai di kerajaan ketiga abdi mengatakan bahwa Pangeran ada di Ponorogo meguru kepada Ki Ageng Kutu.

Kemudian ketiga abdi di suruh kembali ke Ponorogo untuk mengatakan bahwa Pangeran di suruh pulang ke Kerajaan Mataram. Apa yang terjadi, setelah ketiga abdi sampai di tempat perguruan Pangeran sudah tidak ada, bahkan Pangeran meninggalkan tempat menuju ke Bojonegoro, baru sampai di Desa Ngluyu jatuh sakit, akhirnya meninggal dunia, sampai sekarang tempat itu dikenal pesarean Mbah Gedong.

Mengetahui Pangeran sudah tidak ada di tempat itu, ketiganya tetap mencari terus, akhirnya sampai di suatu hutan kemudian di babat. Dalam pembabatan hutan terjadi pertentangan anatara Mangunkusumo dengan Raden Bujang Anung yang ingin memperistri Roro Suratmi adik Mangunkusumo, dia tidak menyetujui. Akhirnya ia disiksa (disikoro) namanya Mangundisikoro menjadi Mangundikoro dan sekarang menjadi Desa/ keluarahan Mangundikaran.

Adapun Roro Suratmi sarenya di Dukuh Kedungdandang, Kelurahan Mangundikaran, sedangkan Raden Bujang Anung sarenya di Kelurahan ganung Kidul dikenal Mbah Jenggot.

  1.  Yang babad Desa       : Mangundikoro
  2. Babad Desa tersebut dilakukan dan prosesnya : dari pendatang dan menetap sebagai penghuni baru, dan melakukan babad hutan menurut kemampuannya sehingga kepemilikan tanah maupun sawah berbeda ukuran luasnya, dan hasil jerih payahnya mereka nikmati sampai turun menurun.
  3. Yang pernah menjadi Kepala Desa / Kelurahan tersebut :
  1. DINEM menjabat ssmpai tahun 1905 di Jl. Asri
  2. TIRTO DIKORO 15 tahun (mulai 1906 sampai 1920)
  3. KARTO DIKROMO alias SUPARMAN selama 15 tahun mulai tahun 1921 sampai 1935 di Dukuh Ganung Lor.
  4. MARNO menjadi Kepala Desa satu hari (penerimaan SK pengangkatan pagi hari dan sore hari menerima SK pemberhentian) berkantor di Ganung Lor.
  5. HARDJO SUKINO 5 tahun mulai tahun 1936 sampai 1940 di Jl. P. Sudirman (sekarang Suzuki Motor)
  6. SANIDJO 4 tahun mulai tahun 1941 sampai 1944 di Jl. P. Sudirman
  7. NGABDAN  16 tahun mulai tahun 1945 sampai 1961 di Gg Jeruk / Jl. P. Sudriman I.
  8. SANIRIN 28 tahun mulai tahun 1962 sampai 1990 di Jl. P. Sudirman 55
  9. MARDIYO RAHARDJO sejak tanggal 16-01-1990 sampai 28-10-1999 berkantor di Jl. Wr. Supratman 20 mulai 27-10-1990 sampai 26-2-1991, di Jl. P. Sudirman 48 a sejak 27-2-1991 sampai 24-4-1993, dan sejak 1 Mei 1993 menempati Bekas Kantor Kawedanan Nganjuk.
  10. SOEWADJI sejak 28-10-1999.
  11. SALIM sampai tahun 2007.
  12. NURBINTI,S, Sos., MM sejak tahun 2007 sampai tahun 2009.
  13. Drs. Gangsar sejak tahun 2009 sampai tahun 2013
  14. IDA SHOBIHATIN, Ap., M.Si sejak tahun 2013 sampai tahun 2015
  15. HARI MOEKTIONO., S. STP. MAP sejak tahun 2015 sampai Maret 2020
  16. AZFANDI MIFTAKHUL YAQIN, S. IP, M.AP sejak Maret 2020 s/d Juni 2023
  17. PURWO HADI SETIYO WICAKSONO, S.STP sejak Juni 2023 s/d Juli 2025 
  18. Plt. Lurah Mangundikaran AGUNG EVENDY, S.STP, M.Si sejak Agustus 2025 s/d sekarang

Adat istiadat oleh Desa sampai sekarang masih dileluri / dilaksanakan :

  1. Selametan bersih Desa oleh semua warga mangundikaran setiap tanggal 16 agustus bertempat di Makam MANGUNDIKORO dan kantor kelurahan.
  2. Nyadranan setiap bulan Syuro di Gang Beringin Punden (Roro Suratmi) Kedungdandang dengan dimeriahkan acara pertunjukan Wayang Golek / Gedok.